Jumat, 18 Maret 2016

Titik Temu Agama dan Ilmu PengetahuanSebelum kita mencari tahu titik temu kedua ilmu tersebut, Perlu kita ketahui terlebih dahulu makna dari agama dan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu hal tertentu (objek atau lapangannya), yang merupakan kesatuan yang sistematis, dan memberikan penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan dengan menunujukkan sebab-sebab hal itu atau sebagai kontak. Sedangkan agama adalah pada umumnya dipahami sebagai Satu system tata keimanan atau tata keyakinan atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia, Satu system tata peribadatan manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu. Dan Satu system norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan  manusia dan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaksud diatas. Setelah kita mengetahui makna dari kedua tersebut barulah kita dapat mengetahui titik temu dari agama dan ilmu pengetahuan tersebut sebagai contoh.Salah satu tipologi yang diajukan John Haught terhadap hubungan agama dan ilmu pengetahuan adalah kontak. Dalam hubungan ini, antara agama dan ilmu pengetahuan saling berkomunikasi untuk membahas maupun memecahkan permasalahan perkembangan ilmu pengetahuan bersama. Agama dan ilmu pengetahuan dapat berkembang bersama dengan saling melengkapi. Dengan demikian pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan yang mengarah kepada situasi konflik yang dapat dihindari. Kemudian menunjukkan adanya hubungan timbal balik atau kontak antara agama dan ilmu pengetahuan. Walaupun pada awalnya terjadi pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan, namun akhirnya timbul hubungan yang saling menguntungkan. Ilmu pengetahuan pada awal alur cerita ‘berdiri’ sendiri dalam sebuah riset penelitian bintang yang dilakukan oleh seorang ilmuwan.Penelitian membuahkan hasil dengan ditemukannya kode-kode rahasia dari luar angkasa yang berisi informasi penting tentang rancangan sebuah alat yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Kode-kode rahasia tersebut berhasil dipecahkan dan alat penembus batas ruang dan waktu diciptakan. Percobaan yang dilakukan sangat mengejutkan banyak pihak. Sang ilmuwan sebagai orang pertama yang menguji alat tersebut berhasil menembus batas ruang dan waktu yang berbeda dengan bumi. Alam semesta tergambar dengan jelas dan terlihat sangat menakjubkan bagi sang ilmuwan yang ateis. Semua pengalaman yang dialaminya tidak mampu ia ucapkan dalam rangkaian huruf alphabet. Ilmu pengetahuan sendiri tidak mampu menjawab apa yang telah sang ilmuwan alami. Dialog dengan seorang ahli agama yang ia kenal membawa sang ilmuwan mendapatkan jawaban atas pengalaman besar tersebut; bahwa Sang Pencipta–lah yang berada di atas segala-galanya. Melalui pengalaman besar itulah kemudian sang ilmuwan semakin yakin bahwa Tuhan-lah yang ‘berdiri’ di balik kemegahan alam semesta. Dari salah satu contoh ini kita dapat menunjukkan adanya titik temu atau kesamaan antara agama dan ilmu pengetahuan dalam memperoleh kebenaran. Agama dan ilmu pengetahuan akhirnya menemukan bahwa Tuhan adalah sumber kebenaran. Agama yang bertitik tolak dari keyakinan menemukan atau merasakan kebesaran Tuhan melalui eksperimen-eksperimen rohaniah dalam ibadah. Sedangkan ilmu pengetahuan berangkat dari keragu-raguan untuk membuktikan suatu kebenaran. Setelah melalui serangkaian eksperimen-eksperimen ilmiah penelitian, akhirnya bukti kebesaran Tuhan terpapar luas dihadapan kita; alam semesta. Penjelasan tersebut memberi gambaran bahwa terdapat kesamaan antara agama dan ilmu pengetahuan, yaitu sama-sama ingin menemukan suatu kebenaran obyektif. Titik tolak dan proses teknislah yang membedakannya dalam konteks ini.Dalam hal ini, situasi dalam keadaan komunikasi dan dialog antara agama dan ilmu pengetahuan adalah jalan untuk menghindari justifikasi negatif berlebihan agama terhadap ilmu pengetahuan maupun ilmu pengetahuan terhadap agama. Agama tidak menganggap ilmu pengetahuan sebagai bentuk pengingkaran akan adanya Tuhan yang akan menodai sendi keberagamaan masyarakat. Ilmu pengetahuan juga tidak memberikan stigma negatif dengan menganggap agama sebagai hambatan dalam mencapai ke-obyektif-an. Terlepas dari tujuan itu, sudah sepatutnya antara agama dan ilmu pengetahuan berjalan berdampingan dan saling melengkapi bahkan tumbuh bersama. Dan juga bahwa “ilmu agama Islam merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan atau sains”.Dan juga Para penentang agama/sekuler, menyatakan bahwa dalam menafsirkan alam tidaklah merupakan keharusan menghubungkannya dengan Tuhan,sebab mereka dapat menafsirkan alam dalam segala fase dan periodenya  berdasarkan penemuan modern tanpa menghubungkanya dengan Tuhan.Tuhan bagi mereka adalah pikiran non-esensial.Walaupun ada suatu anggapan yang demikian, tetapi hampir semua ilmuan modern sepakat bahwa semua peristiwa yang terjadi di alam berjalan menurut satu aturan sentral yang dikenal dengan law of nature (hukum alam).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar