Titik Temu Agama dan Ilmu PengetahuanSebelum
kita mencari tahu titik temu kedua ilmu tersebut, Perlu kita ketahui terlebih
dahulu makna dari agama dan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah kumpulan
pengetahuan mengenai suatu hal tertentu (objek atau lapangannya), yang
merupakan kesatuan yang sistematis, dan memberikan penjelasan yang dapat
dipertanggung jawabkan dengan menunujukkan sebab-sebab hal itu atau sebagai
kontak. Sedangkan agama adalah pada umumnya dipahami sebagai Satu system tata
keimanan atau tata keyakinan atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia,
Satu system tata peribadatan manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu. Dan
Satu system norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan
manusia dan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata
peribadatan termaksud diatas. Setelah kita mengetahui makna dari kedua tersebut
barulah kita dapat mengetahui titik temu dari agama dan ilmu pengetahuan
tersebut sebagai contoh.Salah satu
tipologi yang diajukan John Haught terhadap hubungan agama dan ilmu
pengetahuan adalah kontak. Dalam hubungan ini, antara agama dan ilmu
pengetahuan saling berkomunikasi untuk membahas maupun memecahkan permasalahan
perkembangan ilmu pengetahuan bersama. Agama dan ilmu pengetahuan dapat
berkembang bersama dengan saling melengkapi. Dengan demikian pertentangan
antara agama dan ilmu pengetahuan yang mengarah kepada situasi konflik yang dapat
dihindari. Kemudian menunjukkan adanya hubungan timbal balik atau kontak antara
agama dan ilmu pengetahuan. Walaupun pada awalnya terjadi pertentangan antara
agama dan ilmu pengetahuan, namun akhirnya timbul hubungan yang saling
menguntungkan. Ilmu pengetahuan pada awal alur cerita ‘berdiri’ sendiri dalam
sebuah riset penelitian bintang yang dilakukan oleh seorang ilmuwan.Penelitian
membuahkan hasil dengan ditemukannya kode-kode rahasia dari luar angkasa yang
berisi informasi penting tentang rancangan sebuah alat yang mampu menembus
batas ruang dan waktu. Kode-kode rahasia tersebut berhasil dipecahkan dan alat
penembus batas ruang dan waktu diciptakan. Percobaan yang dilakukan sangat
mengejutkan banyak pihak. Sang ilmuwan sebagai orang pertama yang menguji alat
tersebut berhasil menembus batas ruang dan waktu yang berbeda dengan bumi. Alam
semesta tergambar dengan jelas dan terlihat sangat menakjubkan bagi sang
ilmuwan yang ateis. Semua pengalaman yang dialaminya tidak mampu ia ucapkan
dalam rangkaian huruf alphabet. Ilmu pengetahuan sendiri tidak mampu menjawab
apa yang telah sang ilmuwan alami. Dialog dengan seorang ahli agama yang ia
kenal membawa sang ilmuwan mendapatkan jawaban atas pengalaman besar tersebut;
bahwa Sang Pencipta–lah yang berada di atas segala-galanya. Melalui pengalaman
besar itulah kemudian sang ilmuwan semakin yakin bahwa Tuhan-lah yang ‘berdiri’
di balik kemegahan alam semesta. Dari salah satu contoh ini kita dapat menunjukkan
adanya titik temu atau kesamaan antara agama dan ilmu pengetahuan dalam
memperoleh kebenaran. Agama dan ilmu pengetahuan akhirnya menemukan bahwa Tuhan
adalah sumber kebenaran. Agama yang bertitik tolak dari keyakinan menemukan
atau merasakan kebesaran Tuhan melalui eksperimen-eksperimen rohaniah dalam ibadah.
Sedangkan ilmu pengetahuan berangkat dari keragu-raguan untuk membuktikan suatu
kebenaran. Setelah melalui serangkaian eksperimen-eksperimen ilmiah penelitian,
akhirnya bukti kebesaran Tuhan terpapar luas dihadapan kita; alam semesta.
Penjelasan tersebut memberi gambaran bahwa terdapat kesamaan antara agama dan
ilmu pengetahuan, yaitu sama-sama ingin menemukan suatu kebenaran obyektif.
Titik tolak dan proses teknislah yang membedakannya dalam konteks ini.Dalam hal
ini, situasi dalam keadaan komunikasi dan dialog antara agama dan ilmu
pengetahuan adalah jalan untuk menghindari justifikasi negatif berlebihan agama
terhadap ilmu pengetahuan maupun ilmu pengetahuan terhadap agama. Agama tidak
menganggap ilmu pengetahuan sebagai bentuk pengingkaran akan adanya Tuhan yang
akan menodai sendi keberagamaan masyarakat. Ilmu pengetahuan juga tidak
memberikan stigma negatif dengan menganggap agama sebagai hambatan dalam
mencapai ke-obyektif-an. Terlepas dari tujuan itu, sudah sepatutnya antara
agama dan ilmu pengetahuan berjalan berdampingan dan saling melengkapi bahkan
tumbuh bersama. Dan juga bahwa “ilmu agama Islam merupakan salah satu bidang ilmu
pengetahuan atau sains”.Dan juga Para
penentang agama/sekuler, menyatakan bahwa dalam menafsirkan alam tidaklah
merupakan keharusan menghubungkannya dengan Tuhan,sebab mereka dapat
menafsirkan alam dalam segala fase dan periodenya berdasarkan penemuan
modern tanpa menghubungkanya dengan Tuhan.Tuhan bagi mereka adalah pikiran
non-esensial.Walaupun ada suatu anggapan yang demikian, tetapi hampir semua
ilmuan modern sepakat bahwa semua peristiwa yang terjadi di alam berjalan
menurut satu aturan sentral yang dikenal dengan law of nature (hukum alam).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar